Menjelang Idul Adha, umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah, khususnya pada hari Tarwiyah dan Arafah. Puasa ini memiliki keutamaan yang besar, di antaranya diampuni dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Melafalkan niat puasa merupakan bagian penting, sebagai penegasan tujuan dan kesungguhan hati dalam beribadah. Niat yang tulus dan ikhlas menjadi kunci utama diterimanya amalan puasa oleh Allah SWT.
Contoh niat puasa Tarwiyah: “Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati Tarwiyata lillahi ta‘ala” (Saya niat puasa sunnah Tarwiyah esok hari karena Allah ta’ala). Contoh niat puasa Arafah: “Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnati ‘Arafah lillahi ta‘ala” (Saya niat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah ta’ala).
8 Hal Penting tentang doa niat puasa tarwiyah dan arafah menjelang Idul Adha
Puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan, khususnya bagi umat Muslim yang tidak sedang menjalankan ibadah haji. Kedua puasa ini memiliki keutamaan yang luar biasa, terutama pengampunan dosa. Melaksanakan puasa ini merupakan wujud ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT.
Hari Tarwiyah jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum hari Arafah. Dinamakan Tarwiyah, yang berarti “memberi minum,” karena pada hari itu jamaah haji mengambil air di Mina untuk persiapan wukuf di Arafah. Sementara itu, puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan wukuf di Arafah bagi jamaah haji.
Keutamaan puasa Arafah sangatlah besar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sedangkan puasa Tarwiyah, meskipun keutamaannya tidak disebutkan secara spesifik, tetap memiliki nilai pahala yang besar sebagai amalan sunnah.
Sebelum melaksanakan puasa, sangat penting untuk melafalkan niat. Niat merupakan inti dari ibadah, yang membedakan antara amalan yang diniatkan karena Allah SWT dengan aktivitas duniawi biasa. Niat puasa Tarwiyah dan Arafah dapat dilafalkan sejak malam hari atau sebelum terbit fajar.
Niat puasa Tarwiyah dan Arafah hendaknya dilafalkan dengan tulus dan ikhlas, semata-mata karena Allah SWT. Hindari riya’ atau pamer dalam beribadah, karena hal tersebut dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa.
Selain melafalkan niat, penting juga untuk menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Juga penting untuk menjaga lisan dan perbuatan dari hal-hal yang dilarang agama.
Melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan kesempatan yang berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih pahala yang berlimpah. Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
Selain puasa, perbanyaklah amalan-amalan sunnah lainnya di bulan Dzulhijjah, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, dan memperbanyak takbir. Semoga Allah SWT menerima amalan kita semua.
Jadikanlah momen Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Semoga kita semua senantiasa diberikan keberkahan dan ampunan dari-Nya.
8 Poin Penting Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah
- Niat yang Tulus: Niat puasa haruslah ikhlas karena Allah SWT, bukan karena ingin dipuji atau pamer kepada orang lain. Keikhlasan merupakan kunci utama diterimanya amalan oleh Allah SWT. Tanpa keikhlasan, amalan yang dilakukan akan sia-sia.
- Waktu Niat: Niat puasa Tarwiyah dan Arafah dapat dilafalkan sejak malam hari sebelum tidur atau sebelum terbit fajar. Penting untuk memastikan niat telah dilafalkan sebelum waktu imsak tiba. Jika terlupa, niat masih dapat dilafalkan selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
- Lafal Niat: Lafal niat puasa Tarwiyah dan Arafah diucapkan dalam bahasa Arab atau terjemahannya dalam bahasa yang dipahami. Yang terpenting adalah memahami makna dari niat tersebut. Kesalahan kecil dalam pelafalan tidak membatalkan niat, selama maknanya tetap sama.
- Memahami Makna Niat: Memahami makna niat puasa sangat penting agar ibadah yang dilakukan lebih bermakna. Niat bukan sekadar ucapan, tetapi juga tekad dan komitmen untuk menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh. Dengan memahami maknanya, kita akan lebih khusyuk dalam berpuasa.
- Menjaga Lisan dan Perbuatan: Selama berpuasa, penting untuk menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik, seperti berbohong, menggunjing, dan berkata kasar. Selain itu, hindari juga perbuatan-perbuatan yang dilarang agama. Menjaga lisan dan perbuatan merupakan bagian dari kesempurnaan puasa.
- Memperbanyak Amalan Sunnah: Selain berpuasa, perbanyaklah amalan sunnah lainnya di bulan Dzulhijjah, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, dan memperbanyak takbir. Amalan-amalan tersebut dapat meningkatkan pahala dan keberkahan di bulan yang mulia ini. Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
- Menjaga Kesehatan: Pastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat sebelum menjalankan puasa. Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Menjaga kesehatan merupakan hal penting agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar.
- Menjaga Keikhlasan Sepanjang Puasa: Keikhlasan harus dijaga sepanjang hari saat berpuasa. Hindari pamer atau riya’ dalam beribadah. Ingatlah bahwa puasa adalah ibadah antara hamba dengan Tuhannya. Semoga Allah SWT menerima amalan puasa kita.
Tips Melaksanakan Puasa Tarwiyah dan Arafah
- Sahur:Dianjurkan untuk makan sahur meskipun hanya sedikit, karena sahur merupakan sunnah dan mengandung berkah. Sahur dapat memberikan energi untuk menjalani puasa sepanjang hari. Rasulullah SAW bersabda, “Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.”
- Memperbanyak Doa: Perbanyaklah berdoa kepada Allah SWT selama berpuasa, terutama di waktu-waktu mustajab, seperti sepertiga malam terakhir dan waktu berbuka. Mintalah ampunan, keberkahan, dan segala kebaikan dunia dan akhirat. Doa adalah senjata umat Muslim.
- Membaca Al-Qur’an: Isilah waktu luang selama berpuasa dengan membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an dapat menenangkan hati dan meningkatkan keimanan. Selain itu, membaca Al-Qur’an juga merupakan ibadah yang berpahala besar.
- Berbuka dengan yang Manis: Dianjurkan untuk berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis, seperti kurma atau air putih. Rasulullah SAW biasa berbuka dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), jika tidak ada tamr maka beliau berbuka dengan air putih.
Puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan dua puasa sunnah yang sangat dianjurkan menjelang Idul Adha. Keduanya memiliki keutamaan yang besar, terutama dalam hal pengampunan dosa. Melaksanakan kedua puasa ini merupakan wujud ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT.
Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum Arafah. Nama Tarwiyah berasal dari kata “rawa” yang berarti “memberi minum”. Pada hari itu, jamaah haji mengambil air di Mina untuk persiapan wukuf di Arafah.
Puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan wukuf di Arafah bagi jamaah haji. Puasa ini memiliki keutamaan yang luar biasa, yaitu diampuninya dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Niat merupakan hal yang sangat penting dalam melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah. Niat harus diucapkan dengan tulus ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Niat dapat diucapkan sejak malam hari atau sebelum fajar.
Selain berpuasa, umat Muslim juga dianjurkan untuk memperbanyak amalan-amalan sunnah lainnya di bulan Dzulhijjah, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, dan memperbanyak takbir. Amalan-amalan tersebut dapat meningkatkan pahala dan keberkahan di bulan yang mulia ini.
Menjaga lisan dan perbuatan dari hal-hal yang dilarang agama juga sangat penting selama berpuasa. Hindari perkataan yang tidak baik, seperti berbohong, menggunjing, dan berkata kasar. Jagalah juga perbuatan agar senantiasa sesuai dengan ajaran Islam.
Mempersiapkan diri secara fisik juga penting sebelum melaksanakan puasa. Pastikan tubuh dalam keadaan sehat dan cukup istirahat. Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Semoga dengan melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah serta amalan-amalan sunnah lainnya, kita dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT menerima amalan kita dan memberikan keberkahan dalam hidup kita.
FAQ seputar Puasa Tarwiyah dan Arafah
Muhammad Al-Farisi: Bagaimana hukumnya jika lupa mengucapkan niat puasa Tarwiyah dan Arafah di malam hari?
Ustaz Fathur Rohman: Jika lupa mengucapkan niat di malam hari, masih bisa mengucapkan niat di pagi hari sebelum terbit fajar, asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum.
Ahmad Zainuddin: Apakah boleh niat puasa Tarwiyah dan Arafah digabung?
Ustaz Fathur Rohman: Niat puasa Tarwiyah dan Arafah sebaiknya diucapkan secara terpisah karena keduanya merupakan puasa yang berbeda. Namun, jika terlanjur digabung, puasanya tetap sah.
Bilal Ramadhan: Apakah boleh berpuasa Arafah saja tanpa puasa Tarwiyah?
Ustaz Fathur Rohman: Boleh saja berpuasa Arafah saja tanpa puasa Tarwiyah. Puasa Arafah memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan puasa Tarwiyah.
Fadhlan Syahreza: Bagaimana jika seseorang sakit saat berpuasa Tarwiyah atau Arafah?
Ustaz Fathur Rohman: Jika sakit dan dikhawatirkan akan bertambah parah, maka boleh membatalkan puasa dan menggantinya di hari lain setelah sembuh. Kesehatan lebih diutamakan dalam hal ini.
Ghazali Nurrahman: Apa saja amalan yang dianjurkan selain puasa Tarwiyah dan Arafah di bulan Dzulhijjah?
Ustaz Fathur Rohman: Selain puasa Tarwiyah dan Arafah, dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunnah lainnya di bulan Dzulhijjah, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, dan memperbanyak takbir, terutama pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.