Puasa mutih adalah sebuah tradisi puasa yang dilakukan dengan hanya mengonsumsi makanan dan minuman berwarna putih, seperti nasi putih, air putih, dan garam. Tradisi ini biasanya dilakukan selama satu atau tiga hari, dan dipercaya memiliki manfaat kesehatan dan spiritual.
Puasa mutih dipercaya dapat membersihkan tubuh dari racun, meningkatkan kesehatan pencernaan, dan memberikan ketenangan pikiran. Dalam konteks spiritual, puasa mutih diyakini dapat mendekatkan diri kepada Tuhan dan meningkatkan kesadaran spiritual. Tradisi puasa mutih telah berkembang sejak zaman kuno, dan masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat di Indonesia hingga saat ini.
Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang niat puasa mutih, tata cara pelaksanaannya, manfaatnya, dan sejarah perkembangannya. Pembaca akan mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang tradisi puasa mutih dan relevansinya dalam masyarakat Indonesia.
niat puasa mutih
Niat merupakan aspek penting dalam puasa mutih, karena menentukan tujuan dan kesungguhan seseorang dalam menjalankannya. Berikut adalah 9 aspek penting niat puasa mutih yang perlu diperhatikan:
- Ikhlas
- Niat yang jelas
- Sesuai syariat
- Tujuan yang baik
- Tekad yang kuat
- Keyakinan
- Kesabaran
- Keikhlasan
- Doa
Sembilan aspek niat puasa mutih tersebut saling terkait dan membentuk kesatuan yang utuh. Ikhlas dan niat yang jelas menjadi dasar utama, yang kemudian diperkuat dengan kesesuaian syariat dan tujuan yang baik. Tekad yang kuat, keyakinan, kesabaran, keikhlasan, dan doa menjadi penopang penting dalam menjalankan puasa mutih. Dengan memahami dan menghayati aspek-aspek niat ini, seseorang dapat memperoleh manfaat optimal dari puasa mutih, baik secara fisik maupun spiritual.
Ikhlas
Ikhlas merupakan landasan utama dalam niat puasa mutih. Artinya, seseorang harus memiliki kesucian hati dan niat semata-mata karena Allah SWT dalam menjalankan puasanya. Ikhlas meliputi beberapa aspek berikut:
- Tanpa Pamrih
Puasa mutih dilakukan tanpa mengharapkan imbalan atau pujian dari orang lain. Fokus utamanya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperoleh keridaan-Nya.
- Niat yang Benar
Niat puasa mutih haruslah sesuai dengan ajaran agama dan tidak menyimpang dari tujuan utamanya, yaitu untuk membersihkan diri dan meningkatkan ketakwaan.
- Menahan Diri dari Godaan
Selama menjalankan puasa mutih, seseorang harus mampu menahan diri dari godaan dan hawa nafsu yang dapat membatalkan puasanya. Hal ini menunjukkan kesungguhan dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah.
- Tawakal
Ikhlas juga tercermin dari sikap tawakal kepada Allah SWT. Seseorang yang ikhlas percaya bahwa Allah SWT akan memberikan yang terbaik dan menerima apapun hasil dari puasanya dengan lapang dada.
Dengan menghayati aspek-aspek ikhlas tersebut, seseorang dapat menjalankan puasa mutih dengan hati yang bersih dan niat yang benar. Ikhlas menjadi kunci untuk memperoleh manfaat spiritual dan kesehatan yang optimal dari puasa mutih.
Niat yang jelas
Niat yang jelas merupakan aspek penting dalam niat puasa mutih. Niat yang jelas menunjukkan kesungguhan dan keteguhan seseorang dalam menjalankan puasanya. Niat yang jelas meliputi beberapa komponen sebagai berikut:
- Tujuan yang Spesifik
Seseorang yang menjalankan puasa mutih harus memiliki tujuan yang jelas dan spesifik, misalnya untuk membersihkan diri dari racun, meningkatkan kesehatan pencernaan, atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Tujuan yang jelas akan memberikan arah dan motivasi selama menjalankan puasa.
- Waktu yang Tentu
Niat puasa mutih harus menyebutkan waktu pelaksanaan puasa, misalnya selama satu hari, tiga hari, atau tujuh hari. Penentuan waktu yang jelas akan membantu seseorang untuk mempersiapkan diri dan mengatur jadwal selama puasa.
- Jenis Makanan dan Minuman
Dalam niat puasa mutih, seseorang harus menyebutkan jenis makanan dan minuman yang akan dikonsumsi selama puasa, yaitu makanan dan minuman berwarna putih. Hal ini akan membantu seseorang untuk fokus dan disiplin dalam menjalankan puasanya.
- Harapan dan Manfaat
Seseorang yang menjalankan puasa mutih dapat menyebutkan harapan dan manfaat yang ingin diperoleh dari puasanya. Hal ini akan menjadi motivasi dan pengingat selama menjalankan puasa.
Dengan memiliki niat yang jelas, seseorang dapat menjalankan puasa mutih dengan penuh kesadaran dan kesungguhan. Niat yang jelas akan membantu seseorang untuk tetap fokus pada tujuan puasanya, meminimalisir godaan, dan memperoleh manfaat maksimal dari puasa mutih.
Sesuai syariat
Dalam konteks niat puasa mutih, “Sesuai syariat” memiliki makna penting karena puasa mutih merupakan praktik keagamaan yang harus dijalankan sesuai dengan ajaran agama Islam. Terdapat beberapa aspek atau komponen yang perlu diperhatikan agar niat puasa mutih sesuai dengan syariat:
- Jenis makanan dan minuman
Makanan dan minuman yang dikonsumsi selama puasa mutih harus sesuai dengan syariat Islam, yaitu halal dan tidak mengandung unsur yang diharamkan. Beberapa makanan dan minuman yang diperbolehkan dikonsumsi di antaranya nasi putih, air putih, garam, dan buah-buahan berwarna putih.
- Waktu pelaksanaan
Waktu pelaksanaan puasa mutih hendaknya tidak bertepatan dengan waktu-waktu yang diharamkan untuk berpuasa, seperti pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu, puasa mutih juga tidak boleh dilakukan pada saat sedang melaksanakan ibadah haji atau umrah.
- Tujuan puasa
Tujuan puasa mutih harus sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan diri dari dosa dan kesalahan, serta meningkatkan ketakwaan. Puasa mutih tidak boleh dilakukan untuk tujuan-tujuan yang bertentangan dengan syariat, seperti untuk menurunkan berat badan atau menjaga kesehatan semata.
- Tata cara pelaksanaan
Tata cara pelaksanaan puasa mutih harus sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, yaitu dimulai dengan niat pada waktu sahur dan diakhiri dengan berbuka pada waktu maghrib. Selama berpuasa, seseorang harus menahan diri dari makan dan minum, serta menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasa.
Dengan memperhatikan aspek-aspek “Sesuai syariat” tersebut, seseorang dapat menjalankan puasa mutih dengan benar dan memperoleh manfaat spiritual yang optimal. Niat puasa mutih yang sesuai dengan syariat akan menjadi dasar bagi penerimaan amal ibadah dan keberkahan dari Allah SWT.
Tujuan yang baik
Dalam konteks niat puasa mutih, “Tujuan yang baik” memiliki makna yang sangat penting. Sebab, tujuan yang baik merupakan landasan utama dan motivasi yang mendorong seseorang untuk menjalankan puasa mutih dengan penuh kesadaran dan kesungguhan.
Tujuan yang baik dalam niat puasa mutih tidak hanya sebatas untuk memperoleh manfaat kesehatan atau kecantikan semata. Lebih dari itu, tujuan puasa mutih haruslah sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan diri dari dosa dan kesalahan, serta meningkatkan ketakwaan. Dengan tujuan yang baik, puasa mutih akan menjadi ibadah yang bernilai spiritual tinggi dan berpotensi mendatangkan keberkahan dari Allah SWT.
Beberapa contoh nyata tujuan yang baik dalam niat puasa mutih antara lain:
- Untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan yang telah diperbuat.
- Untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan ketakwaan.
- Untuk memohon ampunan dan pertolongan dari Allah SWT dalam menghadapi kesulitan hidup.
- Untuk memperoleh ketenangan hati dan kedamaian jiwa.
- Untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Dengan memahami hubungan antara “Tujuan yang baik” dan “niat puasa mutih”, seseorang dapat menjalankan puasa mutih dengan lebih bermakna dan khusyuk. Tujuan yang baik akan menjadi pengingat dan motivasi untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ibadah puasa mutih, serta menjadi sarana untuk memperoleh keberkahan dan ridha dari Allah SWT.
Tekad yang kuat
Tekad yang kuat merupakan salah satu aspek penting dalam niat puasa mutih. Tekad yang kuat menjadi landasan bagi seseorang untuk menjalankan puasa mutih dengan istiqomah dan penuh kesadaran. Tanpa tekad yang kuat, seseorang akan mudah tergoda untuk membatalkan puasanya atau tidak menjalankan puasa mutih dengan benar.
Tekad yang kuat lahir dari keyakinan yang mendalam terhadap manfaat puasa mutih, baik secara spiritual maupun kesehatan. Seseorang yang memiliki tekad yang kuat akan mampu menahan rasa lapar, haus, dan godaan selama menjalankan puasa mutih. Ia juga akan berusaha untuk menjaga kesucian puasanya dengan menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasa.
Contoh nyata dari tekad yang kuat dalam niat puasa mutih dapat kita lihat dari kisah Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau menjalankan puasa Asyura, beliau sangat tekun dan istiqomah dalam menjalankan puasanya. Beliau tidak tergoda oleh makanan dan minuman yang ada di sekitarnya, dan beliau tetap berpuasa meskipun dalam kondisi yang sangat lapar dan haus.
Memahami hubungan antara tekad yang kuat dan niat puasa mutih sangat penting bagi kita yang ingin menjalankan puasa mutih dengan baik dan benar. Dengan memiliki tekad yang kuat, kita akan mampu menjalankan puasa mutih dengan istiqomah dan memperoleh manfaat yang optimal dari puasa mutih, baik secara spiritual maupun kesehatan.
Keyakinan
Keyakinan merupakan aspek penting dalam niat puasa mutih. Keyakinan adalah landasan bagi seseorang untuk menjalankan puasa mutih dengan penuh keyakinan dan keikhlasan. Seseorang yang memiliki keyakinan yang kuat terhadap manfaat puasa mutih, baik secara spiritual maupun kesehatan, akan lebih mudah untuk menjalankan puasa mutih dengan istiqomah dan penuh kesadaran.
Keyakinan dalam niat puasa mutih meliputi beberapa hal, di antaranya:
- Keyakinan terhadap ajaran agama Islam yang menganjurkan puasa mutih sebagai salah satu bentuk ibadah.
- Keyakinan terhadap manfaat puasa mutih, baik secara spiritual maupun kesehatan.
- Keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri untuk menjalankan puasa mutih dengan baik dan benar.
Keyakinan yang kuat dalam niat puasa mutih akan membawa dampak positif, di antaranya:
- Memperkuat tekad untuk menjalankan puasa mutih dengan istiqomah.
- Membantu mengatasi rasa lapar, haus, dan godaan selama menjalankan puasa mutih.
- Meningkatkan kekhusyukan dan kualitas ibadah puasa mutih.
Memahami hubungan antara keyakinan dan niat puasa mutih sangat penting bagi kita yang ingin menjalankan puasa mutih dengan baik dan benar. Dengan memiliki keyakinan yang kuat, kita akan mampu menjalankan puasa mutih dengan istiqomah dan memperoleh manfaat yang optimal dari puasa mutih, baik secara spiritual maupun kesehatan.
Kesabaran
Kesabaran merupakan salah satu aspek penting dalam niat puasa mutih. Puasa mutih adalah ibadah yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan dalam menjalankannya. Kesabaran dalam puasa mutih meliputi beberapa hal, di antaranya:
- Kesabaran menahan lapar dan haus
Puasa mutih mengharuskan seseorang untuk menahan lapar dan haus selama berjam-jam. Kesabaran diperlukan untuk mengatasi rasa lapar dan haus yang muncul selama berpuasa.
- Kesabaran menahan godaan
Selama menjalankan puasa mutih, seseorang akan dihadapkan pada berbagai godaan, seperti makanan dan minuman yang menggugah selera. Kesabaran diperlukan untuk menahan godaan tersebut dan tetap istiqomah dalam menjalankan puasa.
- Kesabaran menghadapi kesulitan
Puasa mutih juga dapat menimbulkan beberapa kesulitan, seperti pusing, lemas, dan mual. Kesabaran diperlukan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut dan tetap fokus pada tujuan puasa mutih.
- Kesabaran menunggu hasil
Puasa mutih adalah ibadah yang membutuhkan waktu dan proses untuk melihat hasilnya. Kesabaran diperlukan untuk menunggu hasil dari puasa mutih, baik secara spiritual maupun kesehatan.
Dengan memiliki kesabaran dalam menjalankan puasa mutih, seseorang akan lebih mudah untuk mencapai tujuan puasanya. Kesabaran akan membantu seseorang untuk mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan selama berpuasa, serta tetap istiqomah hingga akhir waktu puasa.
Keikhlasan
Keikhlasan merupakan salah satu aspek penting dalam niat puasa mutih. Puasa mutih adalah ibadah yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan, karena keikhlasan akan menentukan kualitas dan nilai ibadah yang dikerjakan. Keikhlasan dalam puasa mutih berarti menjalankan puasa semata-mata karena Allah SWT, tanpa mengharapkan pujian atau imbalan dari manusia.
Keikhlasan memiliki pengaruh yang besar terhadap niat puasa mutih. Niat yang ikhlas akan membuat seseorang lebih mudah untuk menjalankan puasa mutih dengan baik dan benar. Dengan keikhlasan, seseorang akan lebih mudah untuk menahan lapar, haus, dan godaan selama berpuasa. Selain itu, keikhlasan juga akan membuat seseorang lebih bersabar dalam menghadapi kesulitan dan tantangan selama berpuasa.
Contoh nyata keikhlasan dalam niat puasa mutih dapat kita lihat dari kisah Nabi Muhammad SAW. Ketika beliau menjalankan puasa Asyura, beliau sangat tekun dan istiqomah dalam menjalankan puasanya. Beliau tidak tergoda oleh makanan dan minuman yang ada di sekitarnya, dan beliau tetap berpuasa meskipun dalam kondisi yang sangat lapar dan haus. Keikhlasan Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan puasa Asyura menjadi bukti bahwa keikhlasan memiliki peran yang sangat penting dalam ibadah puasa.
Memahami hubungan antara keikhlasan dan niat puasa mutih sangat penting bagi kita yang ingin menjalankan puasa mutih dengan baik dan benar. Dengan memiliki keikhlasan, kita akan mampu menjalankan puasa mutih dengan istiqomah dan memperoleh manfaat yang optimal dari puasa mutih, baik secara spiritual maupun kesehatan.
Doa
Dalam niat puasa mutih, doa memegang peranan penting sebagai bentuk permohonan dan penyerahan diri kepada Allah SWT. Doa yang dipanjatkan sebelum dan selama menjalankan puasa mutih memiliki makna dan tujuan yang mendalam, yang akan dibahas lebih detail dalam poin-poin berikut:
- Memohon kelancaran dan keberkahan
Dalam doa sebelum puasa mutih, seseorang memanjatkan permohonan agar puasanya diberi kelancaran, keberkahan, dan diterima oleh Allah SWT. Hal ini menunjukkan kesadaran akan keterbatasan diri dan kebutuhan akan pertolongan dari Allah SWT.
- Memperkuat niat dan tekad
Doa selama menjalankan puasa mutih berfungsi untuk memperkuat niat dan tekad seseorang dalam menjalankan puasanya. Dengan memanjatkan doa, seseorang seolah memperbarui komitmennya untuk tetap istiqomah dan menahan diri dari godaan.
- Mengharap ampunan dan pahala
Puasa mutih juga menjadi sarana untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat dan mengharapkan pahala dari Allah SWT. Doa yang dipanjatkan selama puasa mutih menjadi bentuk pengakuan atas kesalahan diri dan harapan akan rahmat dan ampunan dari Allah SWT.
- Menjaga kekhusyukan dan keikhlasan
Dengan memanjatkan doa secara rutin, seseorang dapat menjaga kekhusyukan dan keikhlasan dalam menjalankan puasa mutih. Doa menjadi pengingat akan tujuan utama puasa mutih, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan memahami makna dan tujuan doa dalam niat puasa mutih, seseorang dapat menjalankan puasanya dengan lebih bermakna dan khusyuk. Doa menjadi jembatan penghubung antara seorang hamba dengan Tuhannya, yang akan memperkuat niat, memperlancar perjalanan puasa, dan meningkatkan kualitas ibadah puasa mutih yang dijalankan.
Tanya Jawab tentang Niat Puasa Mutih
Tanya jawab ini akan membahas beberapa pertanyaan umum seputar niat puasa mutih, termasuk pengertian, aspek penting, dan cara menjalankannya. Dengan memahami aspek-aspek ini, pembaca diharapkan dapat menjalankan puasa mutih dengan lebih baik dan memperoleh manfaat yang optimal.
Pertanyaan 1: Apa yang dimaksud dengan niat puasa mutih?
Jawaban: Niat puasa mutih adalah tekad yang bulat dan tulus untuk menjalankan puasa mutih dengan tujuan tertentu, seperti membersihkan diri, meningkatkan kesehatan, atau mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pertanyaan 2: Apa saja aspek penting dalam niat puasa mutih?
Jawaban: Aspek penting dalam niat puasa mutih meliputi ikhlas, niat yang jelas, sesuai syariat, tujuan yang baik, tekad yang kuat, keyakinan, kesabaran, keikhlasan, dan doa.
Pertanyaan 3: Bagaimana cara membuat niat puasa mutih?
Jawaban: Niat puasa mutih diucapkan sebelum memulai puasa, dengan menyebut secara jelas waktu pelaksanaan puasa, jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta tujuan yang ingin dicapai.
Pertanyaan 4: Apa saja manfaat menjalankan puasa mutih dengan niat yang benar?
Jawaban: Menjalankan puasa mutih dengan niat yang benar dapat membawa manfaat, seperti membersihkan tubuh dari racun, meningkatkan kesehatan pencernaan, memberikan ketenangan pikiran, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pertanyaan 5: Bagaimana cara menjaga niat puasa mutih agar tetap kuat?
Jawaban: Menjaga niat puasa mutih agar tetap kuat dapat dilakukan dengan memperkuat keyakinan, memperbanyak doa, mengingat tujuan puasa, dan menghindari godaan yang dapat membatalkan puasa.
Pertanyaan 6: Apa yang harus dilakukan jika niat puasa mutih batal?
Jawaban: Jika niat puasa mutih batal, disunnahkan untuk mengganti puasa di lain waktu. Namun, jika batalnya niat dikarenakan faktor yang tidak disengaja, seperti lupa atau tertidur, maka tidak wajib mengganti puasa.
Demikianlah beberapa tanya jawab tentang niat puasa mutih. Dengan memahami aspek-aspek penting dalam niat puasa mutih, semoga kita dapat menjalankan puasa mutih dengan lebih baik dan memperoleh manfaat yang optimal, baik secara fisik maupun spiritual. Selanjutnya, kita akan membahas tata cara pelaksanaan puasa mutih, termasuk waktu pelaksanaan, jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi, serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama berpuasa.
Tips Menjaga Niat Puasa Mutih
Menjaga niat puasa mutih agar tetap kuat dan istiqomah sangat penting untuk memperoleh manfaat yang optimal dari ibadah puasa mutih. Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan:
Perkuat keyakinan: Yakinlah akan manfaat puasa mutih, baik secara spiritual maupun kesehatan. Keyakinan yang kuat akan menjadi motivasi untuk tetap istiqomah dalam menjalankan puasa mutih.
Perbanyak doa: Panjatkan doa secara rutin sebelum dan selama menjalankan puasa mutih. Doa akan memperkuat niat dan memohon pertolongan Allah SWT untuk tetap istiqomah.
Ingat tujuan puasa: Ingat selalu tujuan utama puasa mutih, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan diri dari dosa, dan meningkatkan kesehatan. Tujuan yang jelas akan menjaga niat agar tetap kuat.
Hindari godaan: Jauhi godaan yang dapat membatalkan puasa, seperti makanan dan minuman yang menggugah selera. Kendalikan hawa nafsu dan tetap fokus pada tujuan puasa mutih.
Berteman dengan orang yang juga berpuasa: Menjalin hubungan dengan orang yang juga menjalankan puasa mutih dapat memberikan dukungan dan motivasi untuk tetap istiqomah. Saling mengingatkan dan menyemangati dapat memperkuat niat puasa mutih.
Isi waktu dengan kegiatan positif: Isi waktu selama berpuasa dengan kegiatan positif, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau melakukan hobi yang bermanfaat. Kegiatan positif akan mengalihkan perhatian dari rasa lapar dan haus, serta menjaga niat puasa mutih.
Jangan fokus pada rasa lapar dan haus: Jangan terlalu fokus pada rasa lapar dan haus yang muncul selama berpuasa. Alihkan perhatian dengan melakukan kegiatan lain atau mengingat tujuan puasa mutih.
Bersyukur atas nikmat puasa: Bersyukurlah atas nikmat yang diberikan Allah SWT berupa kesempatan untuk menjalankan puasa mutih. Rasa syukur akan memperkuat niat dan membuat puasa mutih terasa lebih ringan.
Dengan mengikuti tips-tips di atas, diharapkan niat puasa mutih dapat tetap terjaga dan istiqomah hingga akhir waktu puasa. Niat yang kuat dan istiqomah akan membawa manfaat yang optimal dari ibadah puasa mutih, baik secara spiritual maupun kesehatan.
Selanjutnya, kita akan membahas cara membatalkan puasa mutih dengan baik dan benar. Membatalkan puasa mutih juga merupakan bagian penting dari ibadah puasa mutih yang perlu diperhatikan agar tidak mengurangi pahala dan manfaat yang telah diperoleh.
Kesimpulan
Niat puasa mutih merupakan aspek krusial yang menentukan kualitas dan manfaat ibadah puasa mutih. Niat yang kuat, ikhlas, dan sesuai syariat akan membawa dampak positif pada perjalanan puasa mutih, baik secara spiritual maupun kesehatan. Dalam menjalankannya, penting untuk menjaga niat agar tetap kuat dan istiqomah, dengan memperbanyak doa, menghindari godaan, dan mengisi waktu dengan kegiatan positif.
Dua poin utama yang saling berkaitan dalam niat puasa mutih adalah keikhlasan dan kesabaran. Keikhlasan menjadi landasan niat yang murni, semata-mata karena Allah SWT. Sementara itu, kesabaran diperlukan untuk menghadapi tantangan dan godaan selama berpuasa. Dengan menggabungkan kedua aspek ini, seseorang dapat menjalankan puasa mutih dengan penuh kesadaran dan memperoleh manfaat yang optimal.
Niat puasa mutih mengajarkan kita tentang pentingnya kesungguhan dan komitmen dalam beribadah. Puasa mutih bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga sarana untuk membersihkan diri, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Marilah kita senantiasa menjaga niat puasa mutih dengan baik, agar ibadah kita diterima dan membawa keberkahan bagi kehidupan kita.
Youtube Video:
