Puasa Tasu A Dan Asyura

jurnal


Puasa Tasu A Dan Asyura

Puasa Tasu’a dan Asyura merupakan dua puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Puasa Tasu’a diperingati sebagai hari mengenang kesyahidan cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, di Padang Karbala pada tahun 61 Hijriah, sementara Puasa Asyura diperingati sebagai hari diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun.

Kedua puasa ini memiliki banyak keutamaan dan manfaat, di antaranya dapat menghapus dosa-dosa kecil, meningkatkan ketakwaan, dan melatih kesabaran. Secara historis, Puasa Asyura telah dipraktikkan oleh umat Islam sejak zaman Nabi Muhammad, bahkan sebelum beliau hijrah ke Madinah.

Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam tentang sejarah, keutamaan, dan tata cara pelaksanaan Puasa Tasu’a dan Asyura, serta relevansinya dengan kehidupan modern.

puasa tasu a dan asyura

Puasa Tasu’a dan Asyura merupakan dua puasa sunnah yang memiliki banyak keutamaan dan manfaat. Beberapa aspek penting yang terkait dengan kedua puasa ini antara lain:

  • Sejarah
  • Keutamaan
  • Tata cara
  • Hikmah
  • Relevansi
  • Nilai-nilai
  • Tradisi
  • Ajaran
  • Dampak
  • Pelaksanaan

Aspek-aspek tersebut saling berkaitan dan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Puasa Tasu’a dan Asyura. Misalnya, sejarah puasa ini memberikan konteks tentang peristiwa-peristiwa penting yang melatarbelakanginya, sementara keutamaannya menjelaskan manfaat dan pahala yang dapat diperoleh dengan melaksanakan puasa ini. Tata cara puasa menjelaskan bagaimana puasa ini dilaksanakan dengan benar, sementara hikmah puasa memberikan pelajaran dan nilai-nilai yang dapat diambil dari pelaksanaannya. Relevansi puasa ini menunjukkan pentingnya puasa ini dalam kehidupan modern, dan nilai-nilainya memberikan landasan moral dan spiritual yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah

Sejarah merupakan salah satu aspek penting dalam memahami puasa Tasu’a dan Asyura. Sejarah puasa ini memberikan konteks tentang peristiwa-peristiwa penting yang melatarbelakangi pelaksanaannya, serta perkembangannya hingga saat ini.

  • Asal-usul
    Puasa Tasu’a dan Asyura berawal dari peristiwa kesyahidan cucu Nabi Muhammad, Husain bin Ali, di Padang Karbala pada tahun 61 Hijriah. Puasa Tasu’a diperingati sebagai hari mengenang peristiwa tersebut, sementara Puasa Asyura diperingati sebagai hari diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun.
  • Perkembangan
    Puasa Tasu’a dan Asyura telah dipraktikkan oleh umat Islam sejak zaman Nabi Muhammad. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, puasa Asyura diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Namun, kewajiban ini dicabut setelah turunnya ayat tentang puasa Ramadan.
  • Tradisi
    Seiring berjalannya waktu, muncul berbagai tradisi yang berkaitan dengan Puasa Tasu’a dan Asyura. Di beberapa daerah, puasa ini diiringi dengan kegiatan seperti membaca doa, berziarah ke makam Husain bin Ali, dan membagikan makanan kepada fakir miskin.
  • Relevansi
    Puasa Tasu’a dan Asyura tetap relevan hingga saat ini. Puasa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengorbanan, kesabaran, dan ketakwaan. Selain itu, puasa ini juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan berbagi kebahagiaan dengan sesama.

Dengan memahami sejarah puasa Tasu’a dan Asyura, kita dapat lebih mengapresiasi makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sejarah puasa ini juga memberikan pelajaran berharga tentang perjalanan panjang umat Islam dalam menjalankan ajaran agamanya.

Keutamaan

Keutamaan merupakan salah satu aspek penting dalam memahami puasa Tasu’a dan Asyura. Keutamaan puasa ini menjelaskan manfaat dan pahala yang dapat diperoleh dengan melaksanakan puasa ini, baik di dunia maupun di akhirat.

Puasa Tasu’a dan Asyura memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

  • Menghapus dosa-dosa kecil
  • Meningkatkan ketakwaan
  • Melatih kesabaran
  • Mendapatkan pahala yang besar
  • Diselamatkan dari siksa neraka

Keutamaan puasa Tasu’a dan Asyura juga dapat dilihat dari beberapa hadis Nabi Muhammad, di antaranya:

  • “Barang siapa yang berpuasa pada hari Asyura, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya selama setahun.”
  • “Barang siapa yang berpuasa pada hari Tasu’a dan Asyura, maka Allah akan memberikan pahala seperti pahala puasa selama setahun.”

Memahami keutamaan puasa Tasu’a dan Asyura dapat memotivasi kita untuk melaksanakan puasa ini dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Dengan melaksanakan puasa ini, kita berharap dapat memperoleh limpahan pahala dan keberkahan dari Allah SWT.

Tata cara

Tata cara merupakan aspek penting dalam pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura. Tata cara ini mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan puasa, mulai dari niat hingga berbuka puasa.

  • Niat
    Niat merupakan syarat sah dalam melaksanakan puasa. Niat puasa Tasu’a dan Asyura diucapkan pada malam hari sebelum puasa dilaksanakan, dengan lafaz: “Aku berniat puasa sunnah Tasu’a/Asyura esok hari karena Allah SWT.”
  • Waktu
    Puasa Tasu’a dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
  • Tata cara berpuasa
    Tata cara berpuasa pada dasarnya sama dengan puasa pada umumnya, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
  • Berbuka puasa
    Berbuka puasa dilakukan setelah matahari terbenam. Sunnah berbuka puasa dengan makanan yang manis, seperti kurma atau air putih.

Dengan memahami dan melaksanakan tata cara puasa Tasu’a dan Asyura dengan benar, kita berharap dapat memperoleh pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Tata cara puasa ini juga menjadi sarana untuk melatih kedisiplinan dan kesabaran, serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Hikmah

Hikmah merupakan salah satu aspek penting dalam ibadah puasa Tasu’a dan Asyura. Hikmah puasa ini memberikan pelajaran dan nilai-nilai berharga yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa hikmah puasa Tasu’a dan Asyura:

  • Pengingat peristiwa Karbala
    Puasa Tasu’a dan Asyura mengingatkan kita pada peristiwa kesyahidan Husain bin Ali di Padang Karbala. Peristiwa ini mengajarkan kita tentang pentingnya pengorbanan, keteguhan iman, dan perjuangan melawan kebatilan.
  • Pelatihan kesabaran
    Puasa merupakan latihan kesabaran yang sangat baik. Dengan menahan lapar dan dahaga selama seharian, kita melatih diri untuk mengendalikan hawa nafsu dan bersabar dalam menghadapi kesulitan.
  • Penyucian diri
    Puasa dapat membantu kita membersihkan diri dari dosa-dosa kecil. Dengan menahan diri dari makan dan minum, kita merefleksikan diri dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  • Mempererat tali silaturahmi
    Puasa Tasu’a dan Asyura sering diiringi dengan kegiatan berbagi makanan dan saling berkunjung. Hal ini dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama umat Islam dan menumbuhkan rasa persaudaraan.

Hikmah puasa Tasu’a dan Asyura sangatlah banyak dan berharga. Dengan memahami dan mengamalkan hikmah puasa ini, kita dapat menjadikan ibadah puasa kita lebih bermakna dan bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Relevansi

Relevansi puasa Tasu’a dan Asyura terletak pada nilai-nilai dan ajarannya yang masih relevan dengan kehidupan modern. Puasa ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga memiliki implikasi sosial, spiritual, dan bahkan kesehatan.

  • Pengingat sejarah
    Puasa Tasu’a dan Asyura mengingatkan kita pada peristiwa Karbala, sebuah peristiwa bersejarah yang mengajarkan tentang pengorbanan, keteguhan iman, dan perlawanan terhadap kezaliman.
  • Pelatihan spiritual
    Puasa melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kedekatan dengan Tuhan. Di era modern yang penuh dengan godaan dan distraksi, puasa menjadi sarana yang efektif untuk refleksi diri dan pengembangan spiritual.
  • Solidaritas sosial
    Puasa Tasu’a dan Asyura sering diwarnai dengan kegiatan berbagi makanan dan saling berkunjung. Hal ini memperkuat tali silaturahmi antar sesama umat Islam dan menumbuhkan rasa persaudaraan.
  • Manfaat kesehatan
    Puasa memiliki manfaat kesehatan, seperti detoksifikasi tubuh, menurunkan kadar kolesterol, dan meningkatkan fungsi otak. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, puasa dapat menjadi cara untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.

Dengan memahami relevansi puasa Tasu’a dan Asyura, kita dapat mengoptimalkan pelaksanaannya untuk memperoleh manfaat yang maksimal. Puasa ini bukan hanya sekedar ibadah, tetapi juga sarana untuk pengembangan pribadi, menjaga kesehatan, dan memperkuat hubungan sosial.

Nilai-nilai

Puasa Tasu’a dan Asyura merupakan ibadah yang sarat dengan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai ini menjadi landasan pelaksanaan puasa dan memberikan makna yang mendalam bagi umat Islam. Beberapa nilai penting yang terkandung dalam puasa Tasu’a dan Asyura antara lain:

  • Pengorbanan
    Puasa Tasu’a dan Asyura mengingatkan kita pada pengorbanan besar yang dilakukan oleh Husain bin Ali dan para pengikutnya di Padang Karbala. Nilai pengorbanan mengajarkan kita untuk selalu berjuang membela kebenaran dan keadilan, bahkan ketika menghadapi kesulitan.
  • Ketabahan
    Pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura menuntut ketabahan dan kesabaran dalam menahan lapar dan dahaga. Nilai ketabahan mengajarkan kita untuk menghadapi segala cobaan dan rintangan hidup dengan penuh kekuatan dan ketahanan.
  • Solidaritas
    Puasa Tasu’a dan Asyura sering diwarnai dengan kegiatan berbagi makanan dan saling berkunjung. Nilai solidaritas mengajarkan kita untuk saling membantu dan berbagi dengan sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan.

Nilai-nilai yang terkandung dalam puasa Tasu’a dan Asyura sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai ini, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik, beriman, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Tradisi

Tradisi merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura. Tradisi-tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ibadah puasa ini. Beberapa tradisi yang umum dilakukan saat puasa Tasu’a dan Asyura antara lain:

1. Membaca (ziarah Asyura)
Ziarah Asyura merupakan doa yang dipanjatkan untuk mengenang Imam Husain dan para pengikutnya yang gugur di Karbala. Doa ini biasanya dibaca pada pagi atau sore hari Asyura.

2. Membagikan makanan
Membagikan makanan atau disebut juga dengan istilah “tabarruk” merupakan tradisi yang dilakukan untuk berbagi kebahagiaan dan keberkahan dengan sesama. Makanan yang dibagikan biasanya berupa bubur, nasi, atau makanan lainnya.

3. Berkunjung ke makam
Di beberapa daerah, umat Islam juga memiliki tradisi berkunjung ke makam atau (ziarah) ke tempat-tempat yang dianggap memiliki nilai sejarah atau religius, seperti makam Imam Husain di Karbala atau makam para wali.

Tradisi-tradisi ini tidak hanya memperkaya pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura, tetapi juga memiliki nilai-nilai yang mendalam. Membaca dapat memperkuat kecintaan dan kesetiaan kita kepada Ahlulbait, sementara berbagi makanan dan berkunjung ke makam dapat mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan rasa persaudaraan antar sesama umat Islam. Dengan memahami dan mengamalkan tradisi-tradisi ini, kita dapat semakin menghayati makna dan hikmah dari puasa Tasu’a dan Asyura.

Ajaran

Puasa Tasu’a dan Asyura merupakan ibadah yang tidak hanya memiliki dimensi ritual, tetapi juga sarat dengan ajaran-ajaran berharga. Ajaran-ajaran ini menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa dan mengarungi kehidupan sehari-hari.

  • Pengorbanan
    Puasa Tasu’a dan Asyura mengajarkan pentingnya pengorbanan dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Peristiwa Karbala menjadi contoh nyata bagaimana Imam Husain dan para pengikutnya mengorbankan nyawa mereka demi menegakkan nilai-nilai luhur.
  • Kesabaran
    Pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura melatih kesabaran dan ketahanan dalam menghadapi kesulitan. Dengan menahan lapar dan dahaga, umat Islam belajar untuk mengendalikan hawa nafsu dan bersabar dalam menghadapi cobaan.
  • Solidaritas
    Tradisi berbagi makanan dan saling berkunjung saat puasa Tasu’a dan Asyura memperkuat tali persaudaraan dan solidaritas antar sesama Muslim. Ajaran ini mendorong umat Islam untuk saling membantu dan memberikan dukungan, terutama kepada mereka yang membutuhkan.
  • Refleksi Diri
    Puasa Tasu’a dan Asyura menjadi momen yang tepat untuk refleksi diri dan introspeksi. Umat Islam diajak untuk merenungkan perbuatan dan memperkuat hubungannya dengan Allah SWT, sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik.

Dengan memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam puasa Tasu’a dan Asyura, umat Islam diharapkan dapat meningkatkan keimanan, memperkuat akhlak, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Ajaran-ajaran ini menjadi pedoman penting dalam menjalani kehidupan yang bermakna dan berkah.

Dampak

Puasa Tasu’a dan Asyura memiliki dampak yang signifikan bagi umat Islam, baik secara spiritual maupun sosial. Salah satu dampak pentingnya adalah:

Peningkatan ketakwaan
Pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kedekatan dengan Tuhan. Dengan menahan lapar dan dahaga selama seharian, umat Islam belajar untuk mengendalikan hawa nafsu dan bersabar dalam menghadapi cobaan. Hal ini berdampak pada peningkatan ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

Penguatan solidaritas sosial
Tradisi berbagi makanan dan saling berkunjung saat puasa Tasu’a dan Asyura memperkuat tali persaudaraan dan solidaritas antar sesama Muslim. Umat Islam diajarkan untuk saling membantu dan memberikan dukungan, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Dampaknya, tercipta masyarakat yang harmonis dan saling peduli.

Memahami dampak puasa Tasu’a dan Asyura sangat penting untuk mengoptimalkan pelaksanaannya. Dengan menyadari manfaat dan dampak positif yang ditimbulkan, umat Islam dapat lebih termotivasi untuk melaksanakan puasa ini dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Selain itu, pemahaman ini juga dapat mendorong umat Islam untuk mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam puasa Tasu’a dan Asyura dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan

Pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan untuk memperoleh manfaat dan keberkahan dari ibadah ini. Pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura meliputi berbagai aspek, di antaranya:

  • Niat
    Niat merupakan syarat sah dalam berpuasa. Niat puasa Tasu’a dan Asyura diucapkan pada malam hari sebelum puasa dilaksanakan, dengan lafaz: “Aku berniat puasa sunnah Tasu’a/Asyura esok hari karena Allah SWT.”
  • Waktu
    Puasa Tasu’a dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram. Puasa dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
  • Tata Cara
    Tata cara berpuasa Tasu’a dan Asyura pada dasarnya sama dengan puasa pada umumnya, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
  • Berbuka Puasa
    Berbuka puasa dilakukan setelah matahari terbenam. Sunnah berbuka puasa dengan makanan yang manis, seperti kurma atau air putih.

Dengan memahami dan melaksanakan puasa Tasu’a dan Asyura dengan benar, diharapkan dapat memperoleh pahala dan keberkahan dari Allah SWT. Pelaksanaan puasa ini juga menjadi sarana untuk melatih kedisiplinan dan kesabaran, serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Pertanyaan Umum tentang Puasa Tasu’a dan Asyura

Berikut adalah beberapa pertanyaan umum dan jawabannya terkait dengan puasa Tasu’a dan Asyura:

Pertanyaan 1: Apa itu puasa Tasu’a dan Asyura?

Jawaban: Puasa Tasu’a dan Asyura adalah dua puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Pertanyaan 2: Kapan waktu pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura?

Jawaban: Puasa Tasu’a dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.

Pertanyaan 3: Apa keutamaan puasa Tasu’a dan Asyura?

Jawaban: Puasa Tasu’a dan Asyura memiliki banyak keutamaan, di antaranya menghapus dosa-dosa kecil, meningkatkan ketakwaan, dan mendapatkan pahala yang besar.

Pertanyaan 4: Bagaimana tata cara pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura?

Jawaban: Tata cara pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura sama dengan puasa pada umumnya, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Pertanyaan 5: Apa hikmah dari puasa Tasu’a dan Asyura?

Jawaban: Hikmah puasa Tasu’a dan Asyura antara lain untuk memperingati peristiwa Karbala, melatih kesabaran, dan membersihkan diri dari dosa-dosa kecil.

Pertanyaan 6: Apa saja tradisi yang biasa dilakukan saat puasa Tasu’a dan Asyura?

Jawaban: Tradisi yang biasa dilakukan saat puasa Tasu’a dan Asyura antara lain membaca (ziarah Asyura), berbagi makanan, dan berkunjung ke makam.

Dengan memahami pertanyaan dan jawaban umum ini, diharapkan dapat menambah pemahaman pembaca tentang puasa Tasu’a dan Asyura. Selanjutnya, kita akan membahas lebih dalam tentang nilai-nilai dan ajaran yang terkandung dalam puasa Tasu’a dan Asyura.

Pelajari Nilai-nilai dan Ajaran Puasa Tasu’a dan Asyura

Tips Melaksanakan Puasa Tasu’a dan Asyura

Selain memahami sejarah, keutamaan, dan tata cara pelaksanaan, ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura, di antaranya:

1. Niat yang Kuat
Sebelum berpuasa, tanamkan niat yang kuat untuk melaksanakan puasa Tasu’a dan Asyura karena Allah SWT.

2. Persiapan Fisik dan Mental
Pastikan kondisi fisik dan mental dalam keadaan baik sebelum berpuasa. Istirahat yang cukup dan konsumsi makanan bergizi saat sahur sangat penting.

3. Berbuka dengan Makanan Sehat
Saat berbuka puasa, utamakan makanan sehat dan bergizi untuk mengembalikan energi tubuh, seperti buah-buahan, sayuran, dan makanan yang mengandung protein.

4. Perbanyak Amal Ibadah
Manfaatkan momentum puasa Tasu’a dan Asyura untuk memperbanyak ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.

5. Renungkan Makna Puasa
Luangkan waktu untuk merenungkan makna dan hikmah dari puasa Tasu’a dan Asyura, sehingga dapat meningkatkan ketakwaan dan menumbuhkan sifat sabar.

6. Berbagi kepada Sesama
Amalkan nilai-nilai solidaritas dengan berbagi makanan atau bantuan kepada mereka yang membutuhkan, sebagai bentuk rasa syukur dan kepedulian sosial.

Dengan menerapkan tips-tips tersebut, diharapkan pelaksanaan puasa Tasu’a dan Asyura dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat yang optimal. Tips-tips ini juga menjadi sarana untuk mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam puasa Tasu’a dan Asyura.

Kesimpulan dan Pelajaran yang Dipetik dari Puasa Tasu’a dan Asyura

Kesimpulan

Puasa Tasu’a dan Asyura merupakan ibadah yang memiliki nilai sejarah, keutamaan, dan ajaran yang luhur. Pelaksanaan puasa ini tidak hanya berdampak positif secara spiritual, tetapi juga sosial. Puasa Tasu’a dan Asyura mengajarkan pentingnya pengorbanan, kesabaran, solidaritas, dan refleksi diri.

Beberapa poin utama yang saling berkaitan dalam puasa Tasu’a dan Asyura antara lain:

  1. Puasa ini menjadi pengingat peristiwa Karbala dan perjuangan Imam Husain dalam menegakkan kebenaran.
  2. Melalui puasa, umat Islam belajar untuk mengendalikan hawa nafsu, melatih kesabaran, dan meningkatkan kedekatan dengan Tuhan.
  3. Tradisi berbagi makanan dan saling berkunjung saat puasa Tasu’a dan Asyura memperkuat tali persaudaraan dan solidaritas antar sesama Muslim.

Memahami dan mengamalkan nilai-nilai puasa Tasu’a dan Asyura sangat penting untuk meningkatkan keimanan, memperkuat akhlak, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Mari kita jadikan puasa Tasu’a dan Asyura sebagai momentum untuk merefleksikan diri, meningkatkan ketakwaan, dan mempererat hubungan kita dengan sesama.

Youtube Video:



Artikel Terkait

Bagikan:

jurnal

Saya adalah seorang penulis yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun. Hobi saya menulis artikel yang bermanfaat untuk teman-teman yang membaca artikel saya.

Tags

Artikel Terbaru